Pentingnya Pendidikan Karakter Pada Anak Sejak Dini

Saya ingat sekali pernah ada satu tulisan viral beberapa bulan kemarin setelah idul adha, sebuah tulisan curhatan salah seorang tamu yang berkunjung ke sebuah keluarga sederhana. Kebetulan saat berkunjung juga ada tamu lain beserta anak-anaknya, singkat kata dalam tulisan tersebut menilai bahwa si anak tamu ini bersikap kurang sopan dengan menguasai toples makanan yang cukup mahal. Meskipun sudah diingatkan untuk menaruh toplesnya kembali ke meja namun diabaikan. Kisah ini menitik beratkan pada prilaku tidak terpuji anak saat bertamu.

Komentar netizen ?
Biasa...... banyak yang pro dan kontra. Tapi kebanyakan memang menganggap itu hal wajar, " namanya juga anak-anak". Gitu kayanya.
sumber gambar : www.pixabay.com

Dilain cerita, yang aku alami sendiri. Seorang anak yang sedang bertamu masuk dan mengacak-ngacak barang-barang dirumah, loncat-loncat diatas sofa dan yang paling geram yang empunya si anak cuma bilang "namanya juga anak-anak".

Jadi aku cuma bisa menghela nafas panjang, sambil sesekali ngomelin anakku sendiri, iya anakku sendiri aku omelin main dirumah sendiri. Udah saking keselnya...

Lain cerita, si kakak pulang sekolah tiba-tiba merengek minta dibelikan tempat minum baru. Padahal tempat minum yang sekarang baru dibelikan seminggu yang lalu. Saat aku tanya alasannya, si kakak menjawab diejek sama temannya disekolah "kata x tempat minumku jelek."

Aku cuma bisa menarik nafas panjang, kemudian menjelaskan perlahan.

" memang tempat minum kakak jelek ?" Tanyaku pelan

" Enggak, bagus. Tapi dia bilang jelek. Nanti kita beli baru ya bunda"

" Tempat minum itu kakak yang pilih, dan itu tempat minum bagus yang sesuai sama keinginan kakak. Bisa dipencet dan gambarnya robot. Gak usah dengarkan apa kata orang, kalau ada Rizqi pun kakak lebih baik uangnya ditabung untuk beli yang lain. Orang yang gak bersyukur itu temannya setan" ucapku

" Aku gak mau jadi teman setan" kata kakak

"Yasudah bersyukur apa yg sudah kakak punya, Allah gak suka orang yang kufur "

" Iya bunda"
.
Pernah satu ketika, si kakak bicara " rumahku lebih bagus ya daripada rumah Mbah", gitu katanya. Langsung saja aku koreksi, khawatir omongan dan cara pandang dia ini didengar orang lain malah nanti dijadi salah faham. Memang benar anak-anak itu selalu berkata, dan berprilaku jujur sesuai dengan keinginannya. Tapi itu bukan berarti satu hal yang harus dimaklumi, fikiran anak-anak belum bisa menilai mana benar - mana salah. Belum faham juga apakah perkataan itu pantas atau tidak diucapkan, dan disinilah tugas kita sebagai orang tua membimbing anak-anak kita. Bukan malah diabaikan, kemudian berharap dimaklumi. Tapi saat dewasa berharap mereka mengerti, tentang tata Krama, sopan santun, cara pandang dan lainnya.

Itu telaaattt pak buuu... Telat banget...

Pembentukan karakter pada anak sebaiknya dimulai sejak dini, kadang meskipun kita sendiri belum baik. Setidaknya saat mengajari anak kita juga akan ikut belajar menjadi lebih baik untuk memberikan contoh yang baik untuk mereka.

Baca juga :


Pembentukan karakter anak sejak dini bukan hanya bertujuan untuk kebaikan si anak, tapi kebaikan orang tua dikemudian hari. Karena bagaimanapun suatu hari nanti, anak-anak kitalah yang akan mengurus dan merawat kita kelak. Apa jadinya saat kita sudah tua dan tidak berdaya dan dihadapkan dengan anak-anak yang kasar, sulit diatur, tempramen dan kurang peka ?. Siapa yang akan menderita ?.

Mungkin banyak orang tua yang mengutuk anaknya karena bersikap demikian, tapi cobalah bertanya pada diri sendiri, apakah kita sebagai orang tua sudah menanamkan nilai nilai itu kepada anak kita ?.

Jika belum pernah menanam bagaimana kita bisa berharap menuai buahnya ?.

Oleh karena itu penting sekali mengajarkan pendidikan karakter pada anak sejak dini, bahkan sedini mungkin kalau perlu dimulai dari hal-hal sederhana sehari-hari. Yang kemudian nantinya menjadi sebuah kebiasaan, dan kebiasaan yang berulang bisa menjadi karakternya.

Jadi, Pendidikan karakter apa sih yang seharusnya diterapkan sejak dini untuk anak ?

Sopan Santun
Hal pertama dan pendidikan paling dasar yang diajarkan orang tua kepada anaknya adalah sopan santun. Kenapa ?

Karena jarang sekali anak diberikan pendidikan ini disekolah, mungkin ada tapi sifatnya nonformal. Ada materinya sekalipun tetap saja mereka butuh praktek dan contoh langsung. Bukan sekedar tulisan yang dibaca kemudian lupa esoknya.

Beberapa sopan santu yang wajib diajarkan kepada anak sejak dini antara lain :

  • Tidak berteriak ketika berbicara dengan orang tua
  • Mengucapkan terimakasih ketika diberi sesuatu
  • Mengucapkan tolong ketika meminta bantuan
  • Mengucapkan maaf ketika berbuat salah
  • Duduk yang baik saat bertamu, dan meminta izin saat ingin sesuatu
  • Mengucapkan salam ketika keluar dan masuk rumah sendiri dan orang lain
  • Berpamitan ketika selesai bermain


Hal-hal sederhana ini biasanya diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Sehingga benar-benar menjadi kebiasaan dan karakternya nanti.

Menghindari sikap pamer dan sombong

Saya sering mendengar anak-anak memamerkan apa yang dia punya kepada teman-temannya, anakku pun begitu. Benar, " itu memang sifat dasar anak", tapi bukan berarti harus didiamkan.

Saat si kakak ketahuan pamer atau bersikap sombong, segera saya luruskan dibelakang atau saat dia selesai bermain.

Bahasa yang digunakan mungkin setiap orang tua bisa berbeda, karena setiap anak punya karakter yang berbeda ketika diberikan input. Jadi soal bahasa yang digunakan itu dikembalikan ke pola pengasuhan masing-masing, tapi memang sebaiknya gunakan bahasa yang baik dan tidak menghakimi anak.

Rajin menabung
Banyak orang tua memberikan pandangan yang keliru pada anak tentang rajin menabung. Orang tua memberikan fasilitas tabungan kepada anak, tapi inti tujuan dari menabung itu sendiri tidak diterapkan.

Misal, ada anak setiap hari diberikan uang untuk menabung. Tapi setiap anak meminta sesuatu langsung dituruti. Akhirnya menabung hanya menjadi simbol, "memasukkan uang". Tapi kehilangan makna.

Sebaiknya jika memang sedang diajarkan menabung, saat anak meminta sesuatu arahkan anak agar mau menabung dan menunggu sampai tabungannya cukup. Dengan begitu dia akan semangat menabung dan tidak latah setiap melihat barang baru.

Kalau sekiranya tabungannya agak lama terisi, bunda bisa diam diam menambahkannya. Asal jangan tau anak ya. Hehehe

Baca Juga :


Belajar untuk tidak iri dan selalu bersyukur atas apa yang dimiliki

Anakku nih, begini banget. Sampai sekarang mungkin sesekali dia masih suka cerita tentang barang-barang temannya disekolah dan meminta dibelikan barang serupa.
Tapi aku masih dalam proses mengajarkan dia untuk tidak iri atas kepunyaan orang lain dan berusaha untuk mengajarkannya bersyukur atas apapun yang dimilikinya.

Kalau Sifat seperti terus dibiarkan tumbuh dalam diri anak, kedepannya dia akan menjadi orang yang sengsara. Kenapa ?

Karena tidak pernah merasa bersyukur atas hidupnya dan selalu melihat keatas, sifat itunya juga akan membuat hidupnya gelisah atas kebahagiaan orang lain disekelilingnya.

Apa gak kasihan punya anak seperti ini ?.


Tidak mudah menyerah
Saat anak-anak kita mendampingi mereka melakukan hal-hal baru, seperti belajar makan, belajar berjalan, Belajar berbicara, belajar naik sepeda dan banyak lagi.

Kita sebagai orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak dari segi materi mungkin, tapi jangan lupa juga memberikan bekal pendidikan yang bermanfaat juga untuk kehidupannya kelak.

Saat anak-anak sedang belajar dan gagal saat mencoba terus semangati anak untuk terus berusaha dan tidak menyerah. Berikan masukan positif untuk membangkitkan semangatnya, tapi yang menjadi catatan. Terkadang masih banyak orang tua yang menyemangati anak tapi dengan menumbalkan benda saat si anak gagal.

Contoh :

" Aduh, jatoh ya. Badung nih lantai... Uh (sambil memukul lantai) Ayo bangun lagi yuk !"

Semangat seperti ini mengajarkan anak menyalahkan sesuatu saat dia gagal, sampai besar nanti dia akan selalu mencari cari kesalahan orang lain untuk menjadi kambing hitam atas kegagalannya.

Sifat seperti ini akan menyulitkannya dikemudian hari, karena dia cendrung fokus kepada kesalahan orang lain dan lupa mengoreksi dirinya sendiri.

Baca juga :

Sabar
Pelajaran terakhir dan tidak kalah penting adalah sabar. Anak-anak cenderung terburu buru terhadap sesuatu, selalu ingin cepat , susah disuruh menunggu pokoknya aku mau harus cepet, harus ada.

Anak anak juga harus dilatih kesabaran sejak dini, meskipun versi sabar anak-anak itu lebih mudah dan ringan. Itung itung ngelatih kesabaran kalau besar nanti diajakin kepasar tapi emaknya masih kelamaan dandan. Hehehe..

Saat anak sedang minta terburu-buru dibuatkan sesuatu, bahasakan sabar dan tanamkan juga nilai kesabaran.
Sambil ngelakuin sambil ceramah pokoknya, sampe bosen kuping anak.

Dan saat anak udah bisa bilang.

" Bund, aku mau roti bakar dong. Sesempetnya bunda aja ya. Kalau bisa sebelum aku berangkat sekolah. Kalau gak bisa gak apa-apa aku sarapan koral aja dijalan"

Nah disitulah kesabaran anak sedang tumbuh. Hehehe...


Terimakasih sudah membaca, kalau bunda punya pengalaman tentang pendidikan karakter anak sejak dini sharing ya dikolom komentar. Terimakasih



Post a Comment

0 Comments