Berkendara itu Bukan Cuma Butuh Tata Tertib, Tapi juga Etika

Kemarin karena si kakak ngambek gak mau naik gojek kerumah neneknya, akhirnya aku menunggu pak suami pulang main bola. Rencana naik motor pun urung juga karena melihat kondisi langit yang agak berawan, khawatir kehujanan akhirnya kami memutuskan naik mobil.

Di perjalanan pak suami cerita kalau sebelum pulang tadi, teman-temannya terlihat konflik yang berakhir adu hantam dilapangan. Saat ku tanya keterlibatannya, dia bilang cuma melerai dan gak ikut-ikutan. Syukurlah kalau begitu.



Bukan apa-apa, aku cuma takut ketegangan itu berlanjut sampai keluar lapangan. Dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi jaman sekarang banyak sekali orang nekat hanya karena masalah yang sepele. 

Aku sendiri berusaha terus memberikan masukan, meskipun dianggapnya mendramatisir setidaknya pak suami mengerti kekhawatiranku.

Diperjalanan saat kami melewati salah satu rumah makan yang cukup ramai, kami berhenti karena jalanan dua arah yang seharusnya bisa dilalui dua mobil nyaris sulit dilalui karena motor yang diparkirkan dikiri kanan jalan bahkan sampai ketengah jalan. Disisi lain, mobil datang dengan arah yang berlawanan. Mengerti situasi, pak suami mengeringkan mobil kearah kiri, sehingga memberikan ruang untuk mobil didepan kami lewat. Tapi ketika hendak berbalik kekanan motor sudah menjejal dibelakang dan disamping. Sedangkan space didepan sulit untuk menikung langsung, mau tidak mau mobil harus mundur sedikit supaya tidak menabrak motor yang parkir didepan.

Situasi chaos pun tak terhindarkan.

Dengan arahan, aku membantu suami mengarahkan motor motor yang mulai tidak sabar dibelakang mobil. Supaya mobil bisa mundur sedikit, tapi motor didepannya malah urung sabar menunggu arus motor dari sebelah kiri selesai. Ditambah lagi motor yang terparkir di kiri kanan membuat kedua arus sulit bergerak bebas. Kemacetan pun tak terhindarkan, klakson motor mulai bersahutan.

Aku mencoba menarik nafas panjang.

Saat berusaha mengalihkan arus dan membuat motor melaju terlebih dahulu, ada beberapa orang yang melontarkan kata-kata yang kurang enak didengar .
Satu
.
.
Dua
.
.
Sampai yang ketiga kalinya aku ingat betul apa yang dia bilang.
" Bisa naik mobil gak ? Kalau gak sini gue ajarin " katanya.
Pak suami yang sejak tadi menahan emosi langsung naik pitam. Diteriaki ya pengendara motor dengan suara lantan dan kata-kata yang juga kurang mengenakkan. Tapi si pengendara motor tadi langsung melaju pergi, ketika pak suami mau keluar mobil, buru-buru kutahan. Takut malah makin macet nanti. Orang-orang disekeliling akhirnya diam, mencoba mencari jalan  tapi tidak ada lagi komentar aneh. Baguslah..

Beberapa menit setelah motor dibelakang mobil cukup kosong barulah kami bisa jalan.

Sebenarnya situasi seperti ini bukan hal baru di Jakarta. Sudah teramat sangat sering, terjadi. Adu mulut dijalanan mungkin pernah dialami banyak orang karena kesalahan kecil, namun tak jarang berdampak besar.

Menurutku menjadi persoalan sebenarnya bukan apakah orang tersebut bisa mengendarai motor, karena anak kecil pun rasanya sekarang sudah bisa mengendarai motor.  Tapi memang pengendara motor belakangan ini kurang memiliki etika berkendara.

Geber-geber gas dijalanan biar keliatan keren, tapi lupa knalpotnya nampar-nampar muka orang dibelakangnya. Naik motor beriringan sambil ngobrol dijalan raya, ya tuhan satu ini aku paling gak suka karena kebanyakan saat ditegor malah balik marah.

Apa mungkin karena situasi dijalan yang ramai, dan dengan keterbatasan waktu karena harus mengejar kendaraan "teguran" dijalan jadi terkesan spontan, singkat dan sarkatis.

Rasanya gak mungkin juga sih menegur dengan basa basi terlebih dahulu,

" Bu maaf lagi keburu-buru ya ? Mau jemput anak nya ya Bu ? Maaf cuma mau mengingatkan sign nya masih nyala. Yasudah terimakasih ya Bu, hati-hati dijalan"

Dan sebelum Kalimat itu selesai mungkin ada orang lain yang mencaci karena jalan beriringan dijalan raya. Sulit Memang, tapi setidaknya gunakan bahasa yang baik untuk menegur. 

Apalagi kalau dilihat dari tingkat kecelakaan yang fatal biasanya terjadi di jalur yang ramai bukan karena si pengemudi lupa mana pedal gas dan rem. Gak pernah ada ceritanya kan..
Kebanyakan kecelakaan disebabkan karena  masalah teknis. Tapi tidak bisa dipungkiri banyak juga yang terjadi karena kebut-kebutan, dan ini kembali lagi ke pengendalian emosi pengemudi.

Sulit memang mengendalikan emosi dijalan, apalagi dengan situasi yang cukup ruwet dan menguras kesabaran. Dan akhirnya kebanyakan orang lebih mengandalkan nafsunya daripada tata tertib yang berlaku. 

Mobil sedang putar balik, karena  gak sabar akhirnya motor-motor nyelip dari belakang. Mobil angkot ugal-ugalan berebut penumpang, supir bus yang melaju cepat karena mengejar trayek. Dan banyak kasus lainnya yang terjadi diawali karena nafsu si pengemudi.
.
Kemudian berakhir tragedi.
.
.
Ditambah lagi masyarakat kita jaman sekarang ini terlalu mudah menghakimi, nyeletuk ini itu tanpa tau apa masalahnya. Seperti kasus saya semalam.

Sering juga saya temui dijalan para pengemudi yang begitu mudah melempar cacian kepada pengemudi lain karena hal sepele.

" Anj*ing minggir woy naik motor ditengah jalan. Dikira punya bapak lo "

Meskipun itu bukan ditujukan untuk aku, tapi tetep kok aku dengernya prihatin ya.

Ada banyak sekali contoh kasus kurangnya etika pengendara bermotor dijalan, seharusnya saat uji SIM dilakukan pengendara bukan cuma dites mengenai pengetahuan tentang kendaraan , dan rambu-rambu lalu lintas tapi juga tentang pengendalian emosi dijalan.

Memang semua kembali ke personaliti setiap individu, tapi kan kalau ini dibiarkan dan dibenarkan hanya karena "karakternya" juga rasanya untukku gak adil.

Itulah kenapa banyak orang bilang dahulukan Adab sebelum berilmu, karena ilmu tanpa adab itu nantinya akan merusak nilai dari ilmu itu sendiri.

Ah.... Mulai berat bahasan saya. 

Nah belum lagi soal tukang parkir liar yang menjamur di Jakarta, aku gak masalah ya karena banyak juga tukang parkir yang membantu para pengendara. Tapi ada beberapa oknum tukang parkir liar yang cuma ingin menarik uang tanpa memperdulikan situasi sekelilingnya. Contohnya ya tukang parkir di tempat makan ini.
Seharusnya selain menjaga motor yang terparkir dia juga d menjaga kelancaran kendaraan yg lewat  kalau memang dia menggunakan jalanan sebagai lahan parkirnya. Ini kendaraan ditumpuk disatu titik, dan posisinya ada di pertigaan jalan yang ramai. Ah... Sudahlah...

Untuk soal yang satu ini saya berharap pemerintah bisa memberikan solusi terbaik dan penertiban petugas parkir liar yang semakin menjamur di Jakarta.

Terimakasih ya sudah mendengar celotehan emak emak macam aku. Share di kolom komentar ya kalau kamu punya pengalaman soal etika dijalanan.

Post a Comment

0 Comments