Berbeda itu Fitrah, jadi STOP BAPER ! Berikut Tips Menangani Perbedaan Pendapat

sumber gambar :www.pixabay.com
Pernah gak sih kita berbeda pendapat dengan pasangan, orang tua, teman, atasan, rekan atau orang lain. Rasanya sudah sering sekali ya hal ini terjadi, bahkan hampir setiap hari. Jangankan orang lain yang berbeda rumah, beda keluarga, beda pola asuh, beda pendidikan, beda lingkungan, suku, adat istiadat dan lainnya. 

Pokoknya ada banyak hal yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang, yang pada akhirnya mempengaruhi sudut pandang dan pola fikirnya dan tentu juga pada keputusan keputusan yang dibuatnya. Keluarga kandung yang kakak adik sekalipun belum tentu punya pemikiran yang sama, padahal lahir dari keluarga yang sama dan makan makanan yang sama. Apalagi orang lain. Tapi perbedaan yang sudah menjadi takdir yang Maha Kuasa ini kadang memang sulit diterima bagi sebagian orang, mereka beranggapan perbedaan adalah sebuah jurang, kesenjangan, enggak kompak. Pokoknya kalau ada yang beda pandangan itu BIG NO. 

Apalagi hidup dijaman ekstream seperti sekarang, berbeda pandangan bisa berakibat fatal. Pernah saya membaca berita tentang sebuah seorang pria yang membunuh temannya karena beda pilihan pilpres. Astaghfirullahaladzim Dan masih banyak lagi kasus serupa yang sering kita baca disosial media, orang tega menyakiti orang lain bahkan sampai membunuh karena berbeda pendapat. Sesempit itukah hati orang orang jaman sekarang ?. 

Baca Juga :


Kita sebagai netizen juga kadang geram membaca berita semacam ini, tapi belum tentu kita juga bersikap lebih bijak saat diberikan kasus serupa. Saya pernah berbeda pendapat disalah satu grup orang tua murid, 99,9 % semua orang tua murid setuju terhadap usulan salah seorang orang tua murid. Saya yang memang termasuk orang yang terbuka dan enggak suka cari muka, mengutarakan pendapatnya yang memang meskipun agak berbeda tapi tujuannya sama. Alhasil saya jadi mahluk kerdil dan hina di grup tersebut. Sipenggagas langsung ngegas, padahal saya berusaha menyampaikan dengan bahasa yang baik. Tidak lupa mencari bantuan dan support dari kawan sependapat mereka berusaha menyudutkan tanpa pernah menanyakan alasan. Intinya, jaman sekarang beda pendapat itu salah. Jadi bahan ghibah lah saya .. tapi yaudahlah ya. 

Memang kadang ada juga tipe orang yang ingin semua pendapat nya diiyakan. Dan orang orang kritis macam saya memang jadi musuh utama orang orang macam ini. Hahaha.. Dan setelahnya mungkin saya gak akan ditanya pendapatnya lagi, GAK KOMPAK soalnya. Hehehe 

Tapi untungnya meskipun sedikit kecewa saya enggak baperan yang sampai acara blok blokan atau bermusuhan. Santai aja, tapi enggak tau ya kalau orang lain ke saya. 🤣 Karena memang, menerima perbedaan apalagi dalam urusan yang sifatnya sentimentil itu butuh kelapangan hati dan kekuatan bersabar tingkat tinggi loh. Apalagi kalau sudah muncul perdebatan... 

Terus, gimana sih cara menghadapi perbedaan yang timbul dalam bersosialisasi dengan masyarakat atau keluarga supaya perbedaan yang ada tidak menjadi perpecahan : 

Saling menghormati pendapat 
Saat kita berada dalam situasi dimana banyak perbedaan pendapat bermunculan, hal pertama adalah menghormatinya. Itu fitrah, dan sering terjadi jadi berusaha menyikapi perbedaan itu dengan bijak, caranya dengan menghormati pendapat orang lain, mendengarkan pendapatnya sampai selesai. Usahakan jangan menyela perkataan orang lain ketika orang tersebut sedang mengemukakan pendapatnya.

Kemukakan pendapat dengan bahasa yang baik dan sopan 
Saat perbedaan pendapat muncul, biasanya ada orang yang mudah terpancing emosi. Bahasa, gesture tubuh dan raut mukanya sudah mengekspresikan ketidaksukaan, alhasil dia tidak bisa berfikir dengan jernih. Itulah sebabnya dibutuhkan penyampaian pendapat yang baik dan sopan supaya informasi dari kedua belah pihak tersampaikan dengan baik, poin poin yang ingin disampaikan biasanya akan lebih mudah difahami dengan kepala dingin. Kalau semua orang berbicara dengan emosi, maka pesan setiap orang mungkin tidak akan bisa dipahami dan tidak pernah akan menemukan titik temu. 

Tidak menghakimi 
Saya sering sekali merasa disepelekan saat berbicara, dengan asumsi "ibu rumah tangga" tau apa soal begini, ah taunya dapur dan kasur aja gak bakal ngerti soal beginian, dan banyak lagi. Padahal kita tidak bisa serta Merta menghakimi orang lain, bisa jadi meskipun dia mungkin tidak ahli dalam satu hal lantas dia tidak bisa memberikan pendapat yang baik terhadap hal tersebut. 

Hal sederhana yang sering terjadi itu ada dikeluarga kita sendiri dirumah, pernahkah kita saat berbicara dengan orang tua atau ada orang tua yang berbicara Kemudian saat kita mengutarakan pendapat lantas dijawab "anak kecil tau apa kamu". Pernah ? Kalau iya. Jangan lakukan itu lagi ke anak-anak ya. Dan berusahalah memaafkan orang tua yang sudah melakukan itu terhadap kita. Ketika orang tua melakukan hal ini kepada anaknya maka kedepannya akan membuat anak cenderung tidak perduli dengan urusan kita, dan saat mereka tumbuh dewasa dan kita membutuhkan sosok orang yang bisa dimintai pendapat mereka justru akan bersikap acuh tak acuh. Lantas bagaimana ? Sebaiknya ceritakan sesuai dengan porsinya. Berikan pemahaman yang baik atas permasalahan tersebut dan ajari anak bersikap bijak mengatasi masalah tersebut agar menjadi contoh bagi anak kedepannya. Tapi kalau kita dihakimi oleh orang lain bagaimana ? Tetap komunikasikan pendapat dengan cara yang baik. Sudah itu saja titik. Kalau tidak ada titik temu, gimana ? Pasti ada. Kadang titik temu terbaik dari dua hal yang berbeda dan sulit disatukan adalah, yasudah biarkan. Ahahahaha 

Baca Juga ;


Jangan merasa diri sendiri paling benar 
Mungkin kita merasa pendapat kita paling benar, paling rasional dan orang lain itu memang salah. Oke. Tapi jangan memaksa orang lain untuk berpandangan yang sama, sebaiknya kembali komunikasi kan pendapat supaya orang lain mengerti apa yang dimaksudkan . Dengan begitu dia akan faham bahwa apa yang disampaikan itu memang benar. Bukan memaksa mereka membenarkan pendapat kita, tapi berusaha memberikan pemahaman tentang pendapat kita supaya mereka bisa mengerti. 

Diskusikan masalah dengan menitikberatkan pada solusi, bukan pada masalah 
Perbedaan yang dihadapi Saat perdebatan tidak terhindarkan upayakan menyelesaikan masalah dengan menitikberatkan pada solusi bukan masalah. Karena saat kita berorientasi pada masalah, maka akan ada cabang masalah baru yang muncul dan akan dibalas dengan masalah lain dari pihak yang berbeda pendapat. Fokus masalah pada solusi sehingga perbedaan pendapat bisa diselesaikan dengan baik. 

Berlapang dada dan menerima apapun hasilnya 
Dengan berbesar hati Setelah mendapat kesepakatan bersama, terima hasil diskusi tersebut dengan lapang dada dan berbesar hati. Apapun yang terjadi sebelumnya, kesepakatan yang dibuat tetap harus dihormati. Jadi jangan karena pendapatan kita tidak dimenangkan lantas kita tidak menerima pendapat orang lain. 

Jelas apapun masalah yang timbul akibat perbedaan butuh sebuah kedewasaan untuk bisa menyelesaikan dengan baik. Dan tingkat kedewasaan seseorang itu tidak bisa diukur dari jumlah usia yang banyak tapi dengan kematangan pola fikir. 

Jadi saat kamu mungkin berbeda pendapat dengan orang lain, stop baper ya. Yuk mulai komunikasi dengan baik, karena kita bukan keturunan Edward Cullen yang bisa membaca fikiran setiap orang, maka kita butuh usaha maksimal untuk menjelaskan fikiran kita kepada orang lain dengan komunikasi yang baik supaya pesan itu bisa difahami dengan benar. 

Ada yang pernah punya pengalaman soal beda pendapat ?. Sharing dong... Terimakasih sudah membaca ya, salam.

Post a Comment

0 Comments